FAKTA HUKUM, Sabtu (14 Maret 2026). KOTA KUPANG - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena meresmikan Monumen Bruno Sukarto di Kampus STIKOM Uyelindo Kupang, Jumat (13/3/2026).
Peresmian ini menjadi bentuk penghormatan terhadap sosok yang dikenal sebagai pencetus pendidikan teknologi informasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Uyelewun Indonesia tersebut diawali dengan Misa Syukur dan pemberkatan monumen oleh Uskup Agung Kupang. Turut hadir Ketua Yayasan Uyelewun Indonesia Tarsisius Tukang, Wali Kota Kupang Christian Widodo, Bupati Kupang Yosef Lede, Ketua STIKOM Uyelindo Remerta Naatonis, serta civitas akademika dan keluarga besar Bruno Sukarto.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan bahwa pendirian monumen tersebut bukan sekadar penghormatan secara fisik, tetapi juga sebagai pengingat atas kontribusi besar Bruno Sukarto dalam membangun pendidikan teknologi informasi di NTT.
“Hari ini kita meresmikan sebuah monumen untuk mengenang Bapak Bruno Sukarto. Namun sesungguhnya, jauh sebelum monumen ini berdiri, beliau telah membangun monumen hidup melalui karya besar berupa STIKOM Uyelindo dan berbagai karya pendidikan yang lahir dari visinya,” ujarnya.
Gubernur Melki juga mengisahkan semangat Bruno Sukarto terhadap ilmu pengetahuan sejak masih menjadi mahasiswa. Menurutnya, ada cerita yang menggambarkan kecintaan Bruno pada ilmu, yakni memilih membeli buku daripada membeli beras.
“Kisah itu sederhana, tetapi menggambarkan kecintaan luar biasa terhadap pengetahuan. Ia rela membiarkan perutnya kosong, tetapi tidak pernah membiarkan pikirannya kosong dari ilmu,” kata Melki.
Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan tersebut kemudian mendorong Bruno Sukarto datang ke Kupang pada 1997 untuk mendirikan Yayasan Uyelewun Indonesia. Beberapa tahun kemudian, lahirlah STIKOM Uyelindo sebagai institusi pendidikan yang berfokus pada pengembangan teknologi informasi, pada masa ketika teknologi digital masih belum berkembang luas di NTT.
Menurut Melki, warisan terbesar Bruno Sukarto bukanlah monumen fisik, melainkan generasi lulusan yang memiliki keterampilan teknologi informasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Inilah monumen hidup yang sesungguhnya—ribuan lulusan anak bangsa yang memiliki pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi untuk membawa kemajuan bagi masyarakat NTT,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu cita-cita besar Bruno Sukarto adalah mengembangkan STIKOM Uyelindo menjadi sebuah universitas. Saat ini, cita-cita tersebut mulai mendekati kenyataan setelah dilaksanakannya asesmen lapangan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2 Maret 2026.
Melki menilai perkembangan tersebut penting bagi pembangunan sumber daya manusia di NTT, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang menuntut penguasaan teknologi.
“Pemerintah Provinsi NTT sangat menghargai dan mendukung peran lembaga pendidikan seperti STIKOM Uyelindo dalam mencetak generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Uyelewun Indonesia Tarsisius Tukang menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT atas dukungan yang diberikan kepada STIKOM Uyelindo sebagai lembaga pendidikan di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Peresmian monumen ditandai dengan penekanan tombol sirine serta penandatanganan prasasti oleh Gubernur Melki Laka Lena bersama Uskup Agung Kupang, Wali Kota Kupang, Bupati Kupang, dan Ketua STIKOM Uyelindo.
Monumen tersebut diharapkan menjadi pengingat akan semangat, dedikasi, dan visi Bruno Sukarto dalam membangun pendidikan teknologi yang terus berkembang di Nusa Tenggara Timur. (Red)
